Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

21 Oktober 2009

Argowisata Kebun Teh Wonosari Malang

Argowisata Kebun Tea Wonosari, Malang, Jawa Timur letaknya berada di kaki bukit Gunung Arjuno, rutenya dari Lawang, Malang Sebelah Utara. Ketika sampai di Singosari ada jalan bersimpang ke kiri, tepatnya ke Pebukitan Lawang, medannya berliku, sempit dan bertanjakan tajam. Panjang jalannya sekitar 8 km. Jika para wisatawan yang tidak membawa kendaraan sendiri, tersedia angkutan umum Lawang – Wonosari dengan tarif 3000/orang dan jika ingin mencarter, sekitar 25.000 rupiah sekali jalan.

Perjalanan ketika semakin di atas, udara akan terasa semakin sangat dingin, banyak kebun-kebun buah yang bisa kita lihat di kanan – kiri jalan, serta villa – villa dan rumah mewah yang tidak terlalu banyak memang jika dibandingkan dengan Pebukitan sekitar Bandung yang selalu diserbu para pengembang untuk membuat villa – villa dan rumah – rumah mewah.

Sebelum sampai ke gerbang utama Argowisata Wonosari, akan dipungut retribusi jalan sebesar 1.000 rupiah oleh petugas LPMD Desa Ketindan. Baru setelah akan memasuki kawasan PTPN XII, kita akan membayar tiket sebesar 7.500 rupiah / orang.


Di sekitar lokasi kebun the, Anda bisa melihat-lihat terlebih dahulu, jika ingin ke pabrik pengolah the. Biaya masuk ke pabrik sekitar 50.000 / rombongan (sekitar 10 – 15 orang).

Di sekitar lokasi kebun the juga terdapat fasilitas seperti, kolam pemandian air panas dan permaianan anak. Ada pula penyewaaan kendaraan berupa trailler antik. Untuk mengelilingi perkebunan, biayanya 20.000 rupiah sekali jalan. Pilihan lainnya adalah dengan naik kuda dengan biaya 15.000 rupiah sekali jalan. Atau bisa juga dengan angkutan masal yaitu kereta kelinci, yang memutari kawasan perkebunan dengan sirinenya yang khas.

Kita bisa menikmati hamparan luas yang berwarna hijau yang menyelimuti pebukitan yang tampak bergelombang yang mengikuti tekstur dan kontur tanah pebukitan. Tidak hanya hamparan hijau yang dapat kita nikmati, namun hamparan biru pun dapat kita nikmati, ya…….birunya lereng dan puncak gunung Arjuno yang selalu setia menjadi latar bagi pekebunan tea di Wonosari. Gunung Arjuno yang menjulang dengan ketinggian 3339 meter dpal, terasa begitu dekat dengan puncaknya jika dipandang dari pebukitan tea Wonosari. Namun jika cuaca tidak mendukung, maka Anda tidak dapat melihat keindahan puncak Arjuno.

Lelah dan lapar setelah berkeliling, tidak membawa bekal? Pergilah menuju kedai yang menyuguhkan berbagai makanan dan minuman, salah satunya jagung bakar.

12 Oktober 2009

Sunset Di Kampung Nelayan

Kampung Nelayan berada di teluk Baubau, Makasar, Sulawesi Tenggara. Pulau kecil yang mempunyai luas 138,8 hektare dengan jumlah penduduk sekitar 5.000 jiwa yang hampir seluruh masyarakatnya mencari nafkah sebagai nelayan. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Baubau menetapkan pulau tersebut sebagai Pusat Kawasan Industri Perikanan dan Pariwisata Terbatas (KIPPT)

Garis pantai di pulau itu patut diacungi jempol, karena keindahannya yang disertai juga oleh pemandangan yang eksotis saat matahari terbenam (sunset). Banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara yang menjadikan Pulau Makasar menjadi salah satu objek wisata yang patut dikunjungi.

Selain eksotisnya sunset yang dapat dinikmati, di pulau itu juga terdapat sejarah kerajaan Buton serta ada budaya khas yang tidak ditemukan ditempat lain. Pagelaran budaya diadakan setiap bulan Juli yaitu Festival Perairan Pulau Makasar yang masuk ke dalam kalender wisata Nasional. Festival itu dilatarbelakangi oleh tradisi masyarakat Pulau Makasar yang dikenal dengan sebutan Tutturangiana Andaala. Terjemahan bebasnya adalah ritual laut sebagai wujud rasa syukur kepada sang pencipta.
Bentuk festival tersebut adalah parade perahu hias. Ratusan nelayan mengikuti parade tersebut yang di mulai dari Pulau Makasar sampai ke pesisir Pulau Kolema di daratan Baubau.

Selain parade perahu hias, juga ada atraksi wisata lainnya, misalnya perahu naga, banana boat, jetski, flying fish, pekande-kandea, voli pantai, renang tradisional dan dayung tradisional. Dan pada malam harinya diadakah kesenian khas Baubau.

Untuk menuju Pulau Makasar hanya butuh waktu 20 menit yang diperlukan dari Baubau dengan perahu bermesin temple. Saat mendarat di Pulau Makasar, kita bisa langsung melihat gua keramat yang dikenal dengan nama Liana Binte, konon gua tersebut sering dijadikan tempat semedi untuk mencari ilmu kesaktian.

Disekitar gua tersebut, terdapat tebing yang cukup tinggi dan dari puncaknya akan nampak pemandangan Kota Baubau diseberang teluk.

Saat kita turun dari bukit tebing, ke arah timur, tampak hamparan pasir putih atau disebut kabungi-bungi. Pasir putih yang menimbulkan sensasi saat kita menginjaknya, karena begutu halus dan lunak (empuk). Perairannya menyajikan aneka batu karang dan ikan laut.

Diujung utara pulau tersebut, terdapat pantai Baana Bungi. Bentuknya mirip mulut buaya. Banyak terdapat villa-villa kecil yang didirikan di tahun 70-an. Perairan pulau tersebut sangat cocok digunakan untuk olahraga ski air.

Pulau Makasar bernuansa nyaman dan tenang, karena jauh dari hiruk pikuk orang-orang dan kendaraan serta bebas dari pulusi. Mobil saja tidak ada disana, karena memang belum ada jalan yang dapat dilewati oleh mobil, hanya sesekali motor yang melintas di jalan-jalan setapak yang merupakan jalan utama di Pulau Makasar

6 Oktober 2009

Taman Pintar Yogyakarta

Sejak terjadinya ledakan perkembangan sains sekitar tahun 90-an, terutama Teknologi Informasi, pada gilirannya telah menghantarkan peradaban manusia menuju era tanpa batas. Perkembangan sains ini adalah sesuatu yang patut disyukuri dan tentunya menjanjikan kemudahan-kemudahan bagi perbaikan kualitas hidup manusia.

Menghadapi realitas perkembangan dunia semacam itu, dan wujud kepedulian terhadap pendidikan, maka Pemerintah Kota Yogyakarta menggagas sebuah ide untuk Pembangunan "Taman Pintar".

Disebut "Taman Pintar", karena di kawasan ini nantinya para siswa, mulai pra sekolah sampai sekolah menengah bisa dengan leluasa memperdalam pemahaman soal materi-materi pelajaran yang telah diterima di sekolah dan sekaligus berekreasi.
Dengan Target Pembangunan Taman Pintar adalah memperkenalkan science kepada siswa mulai dari dini, harapan lebih luas kreatifitas anak didik terus diasah, sehingga bangsa Indonesia tidak hanya menjadi sasaran eksploitasi pasar teknologi belaka, tetapi juga berusaha untuk dapat menciptakan teknologi sendiri.
Bangunan Taman Pintar ini berada di Jalan P. Senopati Yogyakarta yang dibangun di eks kawasan Shopping Center, dengan pertimbangan tetap adanya keterkaitan yang erat antara Taman Pintar dengan fungsi dan kegiatan bangunan yang ada di sekitarnya, seperti Taman Budaya, Benteng Vredeburg, Societiet Militer dan Gedung Agung.
Relokasi area mulai dilakukan pada tahun 2004, dilanjutkan dengan tahapan pembangunan Tahap I adalah Playground dan Gedung PAUD Barat serta PAUD Timur, yang diresmikan dalam Soft Opening I tanggal 20 Mei 2006 oleh Mendiknas, Bambang Soedibyo.
Pembangunan Tahap II adalah Gedung Oval lantai I dan II serta Gedung Kotak lantai I, yang diresmikan dalam Soft Opening II tanggal 9 Juni 2007 oleh Mendiknas, Bambang Soedibyo dan Menristek, Kusmayanto Kadiman, serta dihadiri oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Pembangunan Tahap III adalah Gedung Kotak lantai II dan III, Tapak Presiden dan Gedung Memorabilia.
Dengan selesainya tahapan pembangunan, Grand Opening Taman Pintar dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2008 yang diresmikan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Lokasi: Jalan P. Senopati Yogyakarta
Jam Buka: 08.00 - 17.00
Konfirmasi: 0274 – 551320


Apa yang ada di Taman Pintar Yogyakarta

• Film 3 Dimensi
• Kreasi dan Demo Sains
• Wahana Ekspresi
• Wahana Ilmu Pengetahuan
• Wahana Apresiasi
• Wahana Niteni Niroake Nambahi

Tujuan berdirinya Taman Pintar Yogyakarta

• Menyediakan sarana pembelajaran sains bagi siswa yang mendukung kurikulum pendidikan.
• Memotivasi anak dan generasi muda untuk mencintai sains
• Membantu guru dalam mengembangkan pengajaran di bidang sains
• Memberi alternatif wisata sains

5 Oktober 2009

Gunung Papandayan


Gunung Papandayan berada di Kota Garut. Gunung dengan elevasi di bawah 3000-an meter itu sangat terkenal di kalangan para pendaki, khususnya pendaki pemula. Perjalanan menuju ke Papandayan rute akhir jika naik bis adalah di terminal Garut. Dari terminal Garut ini kita sambung dengan colt menuju Cisurupan, sebuah desa di kaki gunung Papandayan. Dari sini pun kita harus menumpang ojek atau kendaraan bak terbuka menuju pos pendakian. Mendaftarkan diri adalah hal pertama yang harus kita lakukan, yaitu dengan menyerahkan foto copy KTP beserta uang masuk sebesar tiga ribu rupiah.

Setelah tiba di pos masuk Papandayan, jika lapar atau haus tidak usah bingung, karena di sekitar pos masuk penjagaan banyak tersedia warung-warung makan dan minum. Dan di sekitar tempat itu pula atau di alun-alun pertama ada sebuah sungai yang dapat kita minum untuk persediaan perjalanan kita menuju alun-alun kedua.

Pendakian dari alun-alun pertama menuju alun-alun yang kedua kita akan melewati dari sisi kawah belerang. Kira-kira 1 - 2 jam (sesuai dengan kemampuan kita mendaki)kita akan tiba di tengah-tengah atau di alun-alun kedua, di situ kita dapat juga mengisi ransum bensin kita untuk persiapan menuju ke puncak Papandayan.

Jika pendakian sudah tidak memungkinkan dikarenakan cuaca atau apapun yang sekiranya kita tidak ingin melanjutkan pendakian, kita dapat mendirikan tenda di tempat tersebut. Di tempat tersebut juga tersedia kamar mandi dan pancuran air.

Melanjutkan perjalanan ke puncak, kita dapat menempuh 2 jalur alternatif, jalur yang pertama adalah jalur pintas, menaiki tebing dengan kemiringan sekitar 70 - 75 derajat dan jalur yang kedua adalah jalur utama, jalan naik namun landai tapi memutar lebih jauh. Setelah sampai puncak kita akan disuguhi hamparan ladang edeleweiss yang sangat indah

2 Oktober 2009

Taman Nasional Komodo

Taman Nasional Komodo ditetapkan oleh pemerintah Indonesia tahun 1980, memiliki luas 173.300 ha yang telah mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai warisan dunia (world heritage) pada tahun 1986. Taman Nasional Komodo meliputi pulau Rinca, pulau Radar dan pulau Komodo yang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Home ranch Komodo adalah lembah yang banyak ditemukan di pulau Komodo dan Rinca yang topografisnya memang berbukit-bukit. Pertemuan kaki-kaki bukit itulah yang membentuk lembah dan menjadi home ranch Komodo.

Pulau Rinca
Populasi Komodo diperkirakan 2.400 ekor. Setengahnya berada di pulau Komodo dan setengahnya lagi berada di pulau Rinca.

Dari penelitian para ahli, diyakini bahwa Komodo adalah binatang purba yang hidup semasa dengan Dinosaurus. Ada 3 teori yang menjelaskan mengapa Komodo survive melewati zaman es yang memusnahkan seluruh jenis Dinosaurus.
1. Seluruh Komodo yang hidup saat itu juga ikut musnah bersama Dinosaurus lain. Spesies Komodo terselamatkan pada telor-telor yang tersimpan di lereng bukit meski sehari-hari hidup di lembah. Komodo membuat 5 lubang tapi hanya 1 lubang yang benar-benar terisi telur-telur tersebut, tujuannya, agar bayi-bayi Komodo yang baru lahir bisa selamat dari santapan Komodo dewasa, karena Komodo bersifat kanibal.
2. Komodo betina mempunyai keunikan, yaitu bisa bertelur tanpa perlu di buahi oleh Komodo jantan. Keunikan proses generatif Komodo itu sudah dibuktikan pada seekor Komodo betina yang di bawa ke Kanada, dari 1 ekor kini sudah menjadi 7 ekor. Dalam sekali bertelur, seekor Komodo betina bisa mengeluarkan kira-kira 30 butir, telor-telor itu akan menetas ketika berusia 8 – 9 bulan.
3. Proses survival Komodo adalah ketahanannya dalam “puasa”. Meski secara umum dikenal sebagai carnivora ganas, seekor Komodo bisa bertahan hidup setahun dengan makan daging seberat 50 kg, yang setara dengan berat Rusa dewasa. Di sebut berat total bukan berarti makan daging sekali seberat 50 kg, kemudian bisa hidup setahun. Dalam kondisi minimal, dalam setahun, Komodo hanya makan daging seberat kurang lebih 50 kg. Jika diambil rata-rata, seekor Komodo cukup makan 1 kg daging untuk bertahan hidup selama 1 minggu.

Rute menuju Taman Nasional Komodo:
1. Darat, Denpasar – Mataram – Bima – Sape (±2 hari), menyebrang dengan Ferri ke Labuan Bajo (Ibukota Manggarai Barat) ± 7 jam. Dari Labuan Bajo bisa menyewa perahu atau speedboat menuju pulau Rinca dan Pulau Komodo ± 4 jam.
2. Udara, Bandara Ngurah Rai (Denpasar) – Bandara Komodo (Labuan Bajo) ± 1 jam 25 menit. Perjalanan dari Labuan Bajo dengan perahu ke Pulau Rinca dan Komodo ± 4 jam.
3. Laut, Paket wisata dengan kapal Prinsi yang sudah dilengkapi dengan mesin selama 5 – 6 hari. Selain Taman Nasional Komodo, beberpa pulau di sekitarnya juga menawarkan wisata bahari, seperti snorkeling diving, termasuk dalam paket. Harga paket ± Rp 1,5 juta per kabin per malam.